Judul tulisan ini meminjam judul dari sebuah artikel di www.infolinux.web.id yang menulis opini pak Budi Rahardjo.
Belakangan ini ramai dibicarakan mengenai kultur tunggal (monoculture) di lingkungan perkomputeran. Yang dimaksud dengan kultur tunggal dalam hal ini adalah penggunaan sistem operasi yang sama untuk setiap komputer atau server di sebuah perusahaan atau instansi. Lebih spesifik lagi biasanya ini dikaitkan dengan penggunaan sistem operasi Microsoft Windows untuk komputer desktop, meskipun hal yang sama dapat juga ditujukan kepada sistem operasi Linux. Inti utamanya adalah penggunakan satu sistem yang sama. Sebetulnya, istilah homogen mungkin lebih tepat untuk hal ini.[1]
Sebelum jauh membahas tentang sistem operasi, kita harus tahu dulu tentang sejarah tentang sistem operasi. Paling tidak dengan mempelajari sejarah sistem operasi komputer, wawasan kita bertambah luas dan tidak hanya berkutat pada satu sistem operasi saja.
Sistem operasi dapat dikategorikan menurut tehnologinya (seperti keluarga unix atau lainnya, windows misalnya), kepemilikan dan lisensinya (berlisensi atau open-source), perkembangannya (dilihat dari kacamata sejarah seperti DOS dan OS/2 atau yang terbaru Linux dan Windows), maupun aplikasinya (penggunaannya umum seperti Linux, Windows), khusus desktop (DOS, Apple Mac OS), khusus mainframe (AIX), khusus real-time atau embedded (QNX), PDA, atau tujuan lain seperti keperluan produksi barang, penelitian dan hobi. Secara natural penggolongan-penggolongan itu saling beririsan.
Generasi awal dan penting menurut sejarah
- CTSS (The Compatible TimeShare System, dibuat di MIT oleh Corbato cs)
- Incompatible Timesharing System (The Incompatible TimeShare System, dibangun di MIT untuk mainframe DEC 10/20)
- Sistem operasi THE (oleh Dijkstra cs)
- Multics (proyek gabungan Bell Labs, GE dan MIT)
- Master programme, dibangun oleh Leo Computers, Leo III pada tahun 1962
Sistem Operasi berhak milik generasi awal
- Apple Computer
- Business Operating System (BOS)
- Commodore PET, Commodore 64, dan Commodore VIC-20
- IBM PC awal (UCSD p-System, CPM-86, PC-DOS)
- Sinclair Micro dan QS dll
- TRS-DOS, ROM OS
- TI99-4
- Flex
- FLEX9
- mini-FLEX
- dan lainnya [2]
Pada tahun 1992 muncul sistem operasi :
- Windows 3.1 : Microsoft meluncurkan Windows 3.1 dan kemudian Windows for Workgroups 3.11 di tahun berikutnya.
- 386 BSD : OS berbasis Open Source turunan dari BSD Unix didistribusikan oleh Bill Jolitz setelah meninggalkan Berkeley Software Design, Inc (BSDI). 386 BSD nantinya menjadi induk dari proyek Open Source BSD lainnya, seperti NetBSD, FreeBSD, dan OpenBSD.
- Distro Linux : Linux didistribusikan dalam format distro yang merupakan gabungan dari OS plus program aplikasi. Distro pertama Linux dikenal sebagai SLS (Softlanding Linux System). [3]
Saya sekarang bekerja di lembaga UPT pendidikan dan pelatihan di bawah Depdiknas, sebagai seorang staf pada bagian Data dan Informasi. Berdasarkan survey di lapangan, sekitar 90% komputer yang ada menggunakan sistem operasi “Windows XP Profesional” yang tidak memiliki lisensi alias ….(jadi malu menyebutkannya). Untuk server menggunakan Linux RedHat Enterprise 5 berlisensi. Masalah yang sering dihadapi dan sudah menjadi permasalahan yang umum dihadapi adalah serangan dari virus. Walaupun masing-masing komputer sudah dipasang anti virus yang bervariasi mulai dari yang free sampai dengan yang berlisensi (Kaspersky). Serangan virus ini menyerang sistem operasi yang paling banyak digunakan orang yaitu Windows. Kenapa kita masih senang menggunakan sistem operasi windows ini karena beberapa alasan. Alasan itu salah satunya karena sistem operasi ini lebih populer dan orang sudah dimanjakan dengan segala kemudahannya. Padahal dibalik kemudahannya itu tersimpan banyak masalah.
Solusi yang dapat ditawarkan adalah menggunakan sistem operasi berbasis Linux. Walaupun belum tahu distro mana yang akan digunakan. Ada beberapa pilihan yang mungkin akan coba untuk digunakan, yaitu Ubuntu atau Edu Buntu. Tetapi solusi alternatif ini akan menimbulkan masalah, yaitu kita harus melatih atau memberikan pemahaman kepada pengguna komputer terlebih dahulu. Tetapi sesulit apapun, solusi ini harus coba untuk dilaksanakan, toh sebelum orang-orang mengenal Windows, mereka juga pernah merasa kesulitan untuk mengoperasikannya. Mungkin untuk diawal kita masih dapat menggunakan dual booting, sehingga migrasi kepada sistem operasi yang baru tidak menuai protes atau malah menimbulkan masalah baru. Yang pasti, mau tidak mau, suka tidak suka kita harus mulai bermigrasi ke sistem operasi yang heterogen. Ayo kita beralih ke OSS yang lebih heterogen. Mau?
Karno Nano NIM 23208332
Referensi:
[1] Rahardjo, Budi. 2004. Kultur Tunggal atau heterogen dalam Sistem Operasi, InfoLinux
[2] Daftar Sistem Operasi, http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_sistem_operasi, diakses tanggal 3 Juli 2009
[3] Sejarah Sistem Operasi dari DOS, Windows sampai Linux, http://riadyawan.wordpress.com/2008/10/11/sejarah-sistem-operasi-dari-dos-windows-sampai-linux/, diakses tanggal 3 Juli 2009
Leave a Reply